
Keberadaan angkutan umum di Kulon Progo mulai terpinggirkan. Angkutan ini kalah bersaing dengan menjamurnya sepeda motor di masyarakat. Sulitnya mendapatkan penumpang di jalanan membuat banyak pengusaha angkutan memilih mengandangkan armadanya. Tinggal menunggu waktu, sepeda motor mematikan angkutan desa. Kepala Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informatika Kulon Progo Krissutanto mengatakan, sesuai data yang dimilikinya, sebenarnya angkutan pedesaan masih sekitar 128 armada. Namun, setiap hari yang beroperasi tidak lebih dari 80 armada. Angkutan kota dalam provinsi (AKDP) seperti minibus masih tercatat 163 armada, namun yang beroperasi hanya sekitar 50 armada. Menurutnya, banyaknya angkutan yang tidak beroperasi karena sulitnya mendapatkan penumpang. Saat ini, kebanyakan warga memilih menggunakan sepeda motor sebagai sarana transportasi. Apalagi banyak diler sepeda motor memberikan kemudahan dalam mengeluarkan kredit sepeda motor. "Sebagian angkutan ini hanya ada di garasi karena kalah dengan sepeda motor yang kian marak," kata Krissutanto. Ketua Organda Kulon Progo Djuwardi tidak menampik masalah ini. Saat ini, awak angkutan tidak bisa mendapatkan penumpang dalam jumlah yang cukup. Hanya pada jam-jam tertentu saja angkutan bisa penuh. Sebagian besar penumpang hanyalah pelajar. "Karena penumpang tidak ada, terpaksa banyak yang mengandangkan angkutan," ujarnya. Jika dipaksakan beroperasi, tidak sedikit yang justru akan tombok. Pendapatan yang diperoleh tidak sebanding dengan pengeluaran yang ditanggung. Belum lagi kondisi jalan yang rusak membuat sparepart kendaraan semakin cepat rusak. "Sebagai awak penumpang sangat berharap ada kebijakan dari pemerintah, misal menata pengunjung obyek wisata untuk menggunakan jasa angkutan lokal," tuturnya.
KULON PROGO, KOMPAS.com



